how we can help you? (+62) 81 238 212577 attaxindonesia1@gmail.com

METODE PENCATATAN PERSEDIAAN

Bertemu lagi dengan kami, Konsultan Pajak Tuban, Seperti yang telah kita ketahui perusahaan dagang memiliki kegiatan utama membeli dan menjual barang yang telah dibeli sebelumnya. Diantara proses jual beli tersebut tentunya terdapat persediaan. kami akan membahas tentang metode perpetual, metode periodik, jurnal perpetual, dan jurnal periodik.

Apa yang dimaksud dengan persediaan?

Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) Berbasis Akrual Nomor 05 tentang Akuntansi Persediaan menyatakan bahwa yang dimaksud dengan persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah, dan barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. Persediaan tersebut dapat berwujud:

  • Barang atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam rangka kegiatan operasional pemerintah, seperti alat tulis kantor, suku cadang, amunisi, bahan pemeliharaan, obat-obatan dalam pelayanan kesehatan;
  • Bahan atau perlengkapan (supplies) yang akan digunakan dalam proses produksi, seperti bahan baku dan bahan penolong dalam proses produksi;
  • Barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat, seperti barang setengah jadi atau bangunan dalam proses pengerjaan yang nantinya akan diserahkan/dijual kepada masyarakat;
  • Barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat dalam rangka kegiatan pemerintahan, seperti: hewan, tanaman, ikan, barang jadi atau bangunan yang selesai dikerjakan untuk selanjutnya diserahkan kepada masyarakat;
  • Barang-barang untuk tujuan berjaga-jaga atau strategis seperti cadangan minyak, cadangan beras, dan cadangan bahan pokok lainnya yang dibutuhkan masyarakat.

 

Setelah memahami pengertian persediaan, sekarang saatnya membahas metode yang biasanya digunakan perusahaan untuk mencatat persediaan.

Metode Pencatatan Persediaan

Lazimnya  ada 2 metode persediaan yang biasa digunakan oleh perusahaan dagang antara lain :

  1. Metode Periodik (Periodic Inventory Sistem)

Dengan metode ini,  mutasi atau perpindahan barang yang keluar maupun masuk tidak akan dicatat. Pencatatan barang dilakukan oleh perusahaan barang dagang melalui akun penjualan untuk transaksi penjualan barang dan akun pembelian untuk transaksi pembelian barang. Metode pencatatan barang dengan metode periodic ini menyebabkan persediaan barang tidak dapat diketahui setiap saat. Pencatatan persediaan barang dagang dengan metode ini dilakukan secara berkala (periodik) pada akhir periode dengan sistem penghitungan secara fisik barang dagang dan barang persediaan (stock opname) yang ada di tempat penyimpanan atau gudang. Sebab pencatatan hanya dilakukan pada akhir periode, tidak pada saat setiap terjadinya transaksi maka kehilangan barang persediaan yang akan sulit untuk diketahui oleh perusahaan secara tepat.

  1. Metode Permanen (Perpectual System)

Dengan metode ini, pencatatan barang dagang dilakukan secara permanen atau terus menerus, detail atau terperinci pada setiap transaksi yang terjadi dalam perusahaan barang dagang. Karena pencatatan dilakukan secara permanen atau terus menerus, persediaan barang dagang dapat diketahui setiap saat karena tercatat secara terus-menerus.

Diatas adalah penjelasan tentang metode periodic dan metode permanen. Agar lebih  dapat memahami berikut ini contoh soalnya :

Tanggal Keterangan Nominal
01 Juni 2018 Persediaan Awal          Rp   100.000.000
02 Juni 2018 Membeli persediaan 350 pcs @ Rp 1.000.000          Rp   350.000.000
10 Juni 2018 Membeli persediaan 100 pcs @ Rp 1.000.000          Rp   100.000.000
12 Juni 2018 Penjualan kredit 90 pcs @ Rp 1.200.000          Rp   108.000.000

 

Jika menggunakan metode perpetual , maka jurnalnya

02 Juni 2018     Persediaan (D)                                Rp 350.000.000

Kas / Bank (K)                                              Rp 350.000.000

10 Juni 2018     Persediaan (D)                                Rp 100.000.000

Kas / Bank (K)                                              Rp 100.000.000

12 Juni 2018    Piutang Usaha (D)                            Rp 108.000.000

Penjualan (K)                                               Rp  108.000.000

HPP (D)                                              Rp  90.000.000

Persediaan (K)                                              Rp  90.000.000

Tidak diperlukan jurnal penyesuaian untuk HPP maupun Persediaan karena sudah dicatat sekaligus saat terjadi penjualan. Dengan kondisi diatas saldo awal 100.000.000 maka saldo akhir persediaan di buku besar sudah pasti sebesar 442.000.000 (saldo awal + pembelian – penjualan)

 

 

 

 

Jika menggunakan metode periodic , maka jurnalnya

02 Juni 2018     Persediaan (D)                                Rp 350.000.000

Kas / Bank (K)                                              Rp 350.000.000

10 Juni 2018     Persediaan (D)                                Rp 100.000.000

Kas / Bank (K)                                              Rp 100.000.000

12 Juni 2018    Piutang Usaha (D)                            Rp 108.000.000

Penjualan (K)                                               Rp  108.000.000

Jurnal Penyesuaian 30 Juni 2018 :

Penyesuaian HPP :  Saldo akhir – Pembelian + Saldo awal

: 460.000.000 – 450.000.000 + 100.000.000 = Rp  110.000.000

HPP (D)               Rp 110.000.000

Persediaan (K)             Rp 110.000.000

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kami Online